← Beranda
Biomolekuler
Menumbuhkan Kembali Jaringan Mulut dengan Sel Punca Hasil Rekayasa: Harapan Baru untuk Luka di Rongga Mulut

Sebuah tim peneliti berhasil menumbuhkan sel kulit bagian dalam mulut (sel keratinosit oral) dari sel punca hasil rekayasa ulang (iPSC) yang berasal dari sel kulit orang dewasa. Inovasi ini dilakukan dengan mengurangi penggunaan bahan dari hewan, sehingga membuat proses produksi sel menjadi lebih aman dan terkontrol. Temuan ini membuka jalan baru untuk menyembuhkan luka dan kerusakan pada jaringan mukosa mulut tanpa harus bergantung pada transplantasi jaringan dari area mulut lain milik pasien sendiri.
MenumbuhkanKembaliJaringanMulutSel
Dalam dunia kedokteran regeneratif, kemampuan untuk memperbaiki jaringan yang rusak adalah salah satu tujuan paling ambisius. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal npj Regenerative Medicine memberikan langkah maju yang signifikan, khususnya dalam meregenerasi jaringan di rongga mulut yang dikenal sebagai mukosa oral. Mukosa ini adalah lapisan lembap yang melapisi bagian dalam pipi, gusi, dan langit-langit mulut. Kerusakan pada jaringan ini, misalnya akibat operasi kanker mulut, luka bakar, atau penyakit gusi parah, seringkali sulit disembuhkan dan menimbulkan rasa sakit serta gangguan fungsi.
Para peneliti dalam studi ini menggunakan teknologi sel punca yang sudah sangat canggih: induced pluripotent stem cells (iPSC). iPSC adalah sel dewasa, dalam kasus ini diambil dari sel fibroblas kulit manusia, yang diprogram ulang secara genetik untuk kembali ke kondisi seperti sel punca embrionik. Dari tahap ini, sel punca tersebut kemudian dibimbing (directed differentiation) untuk berubah menjadi sel keratinosit oral—sel utama pembentuk lapisan terluar mukosa mulut.
Keistimewaan dari riset ini terletak pada pendekatan yang disebut xenoreduced (pengurangan bahan dari spesies lain). Biasanya, proses membiakkan sel punca di laboratorium membutuhkan bahan pendukung (seperti matriks dan faktor pertumbuhan) yang berasal dari hewan. Penggunaan bahan hewani ini berpotensi menimbulkan risiko seperti reaksi imun atau kontaminasi patogen silang. Dalam studi ini, para ilmuwan berhasil meminimalkan penggunaan komponen hewani tersebut secara drastis pada setiap tahapan, mulai dari pemrograman ulang sel hingga diferensiasi menjadi keratinosit.
Hasilnya sangat menjanjikan. Sel keratinosit oral hasil rekayasa ini menunjukkan karakteristik yang sangat mirip dengan sel keratinosit oral manusia asli, baik dalam bentuk, struktur genetik, maupun kemampuannya untuk membelah diri dan membentuk lapisan jaringan. Yang paling penting, sel-sel ini mampu memproduksi protein-protein kunci yang diperlukan untuk membentuk lapisan pelindung mulut, seperti keratin dan involucrin.
Secara klinis, penelitian ini menawarkan alternatif yang jauh lebih praktis dan aman. Saat ini, untuk memperbaiki kerusakan mukosa mulut yang luas, dokter bedah seringkali perlu mengambil jaringan dari pipi pasien sendiri (cangkok autologus). Prosedur ini menciptakan luka baru di tempat pengambilan jaringan. Dengan teknologi iPSC, kita bisa menumbuhkan jaringan muka mulut baru hanya dari sedikit sampel kulit pasien. Proses xenoreduced juga memastikan bahwa sel yang dihasilkan lebih cocok untuk diterapi pada manusia, mengurangi risiko penolakan imun dan memenuhi standar keamanan produksi klinis yang lebih ketat. Inovasi ini membawa kita selangkah lebih dekat pada visi pengobatan regeneratif: memperbaiki tubuh dengan sel buatan sendiri yang ditumbuhkan secara bersih dan spesifik.
Referensi
- Xenoreduced generation of oral keratinocytes from induced pluripotent stem cells derived from adult human fibroblasts for oral mucosal regeneration. Stem cells : nature.com subject feeds. https://www.nature.com/articles/s41536-026-00500-y
