Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Biomolekuler

Peran Jenis Kelamin Neuron Otak dalam Mengatur Aktivitas Sel Punca Usus dan Kerentanan Kanker

dr. Abdul Malik Setiawan, M.Infec.Dis., PhD22 Agustus 2026Biomolekuler

Penelitian terbaru mengungkap bahwa jenis kelamin neuron di otak ternyata memengaruhi sinyal di lingkungan mikro usus, yang pada akhirnya mengendalikan aktivitas sel punca dan risiko kanker. Temuan ini membuka perspektif baru dalam memahami perbedaan biologis antara pria dan wanita pada tingkat sel punca, serta implikasinya terhadap terapi regeneratif dan pencegahan kanker.

PeranJenisKelaminNeuronOtak
Sel punca (stem cell) dikenal sebagai sel induk yang mampu memperbarui diri dan berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel. Dalam tubuh, aktivitas sel punca diatur secara ketat oleh sinyal dari lingkungan sekitarnya, yang disebut niche. Kini, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications mengungkapkan bahwa sinyal tersebut tidak hanya berasal dari jaringan lokal, tetapi juga dari otak—dan yang menarik, jenis kelamin neuron di otak ternyata ikut menentukan bagaimana sel punca usus berperilaku. Penelitian ini berfokus pada perbedaan jenis kelamin dalam aktivitas sel punca usus dan kerentanan terhadap kanker usus. Para ilmuwan menemukan bahwa neuron di sistem saraf pusat, terutama yang berasal dari individu jantan dan betina, mengirimkan sinyal berbeda ke usus. Sinyal ini kemudian memengaruhi niche sel punca di usus, yaitu kumpulan sel dan molekul pendukung yang menjaga keseimbangan antara pembaruan dan diferensiasi sel punca. Pada model hewan, neuron dari otak jantan ternyata menghasilkan sinyal yang lebih kuat dalam mendorong proliferasi sel punca usus. Akibatnya, aktivitas sel punca menjadi lebih tinggi pada individu jantan. Namun, peningkatan aktivitas ini juga dikaitkan dengan risiko lebih besar terjadinya mutasi dan perkembangan kanker usus. Sebaliknya, neuron dari otak betina menghasilkan sinyal yang lebih moderat, sehingga aktivitas sel punca lebih terkendali dan risiko kanker lebih rendah. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana perbedaan biologis antara pria dan wanita—yang sering kali hanya dikaitkan dengan hormon—sebenarnya sudah tertanam dalam sistem saraf dan memengaruhi jaringan jauh seperti usus. Dalam konteks kedokteran regeneratif, pemahaman ini sangat penting. Jika kita ingin mengembangkan terapi berbasis sel punca yang efektif, kita tidak bisa mengabaikan faktor jenis kelamin. Misalnya, dalam pengobatan penyakit usus atau regenerasi jaringan, dosis atau jenis sinyal yang diberikan mungkin perlu disesuaikan berdasarkan jenis kelamin pasien. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti peran sumbu otak-usus dalam mengatur sel punca. Selama ini, sumbu otak-usus lebih dikenal dalam konteks pencernaan dan suasana hati. Kini, terbukti bahwa sinyal saraf dari otak juga memengaruhi perilaku sel punca, yang merupakan dasar dari perbaikan jaringan dan pertumbuhan tumor. Hal ini membuka peluang untuk menargetkan sinyal saraf tertentu guna mengendalikan aktivitas sel punca, baik untuk mendorong regenerasi maupun untuk menekan pertumbuhan kanker. Meskipun studi ini masih dilakukan pada hewan, implikasinya bagi manusia sangat menjanjikan. Ke depannya, para peneliti dapat mengembangkan pendekatan yang mempertimbangkan jenis kelamin neuron sebagai variabel penting dalam terapi sel punca. Dengan demikian, pengobatan regeneratif dapat menjadi lebih personal dan efektif, serta risiko kanker dapat diminimalkan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa sel punca tidak bekerja sendiri. Mereka dipengaruhi oleh sinyal dari seluruh tubuh, termasuk dari otak. Dan perbedaan jenis kelamin pada level neuron ternyata membawa konsekuensi besar bagi aktivitas sel punca dan kerentanan terhadap penyakit. Inilah salah satu contoh bagaimana riset sel punca terus mengungkap kompleksitas tubuh manusia, sekaligus membuka jalan menuju pengobatan yang lebih cerdas dan tepat sasaran.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. Sex of central neurons controls intestinal niche signalling to drive sex differences in stem cell activity and cancer susceptibility. Stem cells : nature.com subject feeds. https://www.nature.com/articles/s41467-026-76998-z