← Beranda
Biomolekuler
BRD2, Penghambat Utama dalam Pembuatan Sel Punca Induksi: Peran Kunci Biosintesis Lipid dan Matrisome

Para peneliti menemukan bahwa protein BRD2 menjadi penghambat signifikan dalam proses reprogramming sel somatik menjadi sel punca pluripoten terinduksi (iPSC). Hambatan ini terjadi melalui regulasi biosintesis lipid dan komponen matriks ekstraseluler (matrisome) yang dimediasi oleh domain ET (extra-terminal) pada protein BRD2. Temuan ini membuka jalan untuk meningkatkan efisiensi produksi iPSC dengan menargetkan jalur lipid dan matrisome.
BRDPenghambatUtamadalamPembuatan
Dalam dunia kedokteran regeneratif, sel punca pluripoten terinduksi atau iPSC telah menjadi salah satu inovasi paling menjanjikan. iPSC dibuat dengan memprogram ulang sel dewasa—misalnya sel kulit atau darah—kembali ke keadaan seperti sel punca embrionik, sehingga mampu berdiferensiasi menjadi hampir semua jenis sel tubuh. Namun, proses reprogramming ini masih memiliki kendala utama: efisiensinya rendah dan seringkali terhambat oleh berbagai faktor molekuler internal sel.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Communications Biology mengungkap salah satu penghambat utama dalam proses tersebut, yaitu protein BRD2. BRD2 termasuk dalam keluarga protein bromodomain yang dikenal sebagai pembaca kode epigenetik, terutama yang berkaitan dengan asetilasi histon. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa BRD2 justru berperan sebagai penghambat reprogramming iPSC, bukan sebagai pendukung.
Mekanisme penghambatan ini ternyata unik. BRD2 bekerja melalui domain ET (extra-terminal) yang dimilikinya untuk mengatur dua aspek penting dalam sel: biosintesis lipid dan matrisome. Matrisome merujuk pada kumpulan protein penyusun matriks ekstraseluler, yaitu kerangka di luar sel yang memengaruhi perilaku sel. Sementara itu, biosintesis lipid mencakup produksi berbagai molekul lemak yang berperan dalam struktur membran dan sinyal sel.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa ketika aktivitas BRD2 ditekan atau domain ET-nya dimodifikasi, terjadi perubahan pada profil lipid dan komposisi matrisome sel. Perubahan ini justru menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi proses reprogramming. Artinya, sel-sel yang biasanya sulit diubah menjadi iPSC dapat lebih mudah diprogram ulang jika hambatan dari BRD2 dihilangkan.
Temuan ini membuka perspektif baru dalam pengembangan terapi berbasis sel punca. Selama ini, upaya meningkatkan efisiensi reprogramming sering difokuskan pada faktor transkripsi atau jalur sinyal inti. Kini, ditemukan bahwa jalur metabolisme lipid dan lingkungan ekstraseluler juga memegang peranan krusial. Dengan memahami bagaimana BRD2 mengatur dua jalur ini, para ilmuwan dapat merancang strategi untuk menonaktifkan atau memodulasi BRD2 secara sementara, sehingga sel lebih mudah diprogram ulang.
Lebih jauh lagi, hasil ini juga relevan untuk memahami penyakit terkait sel punca, seperti kanker dan gangguan perkembangan. Karena BRD2 juga terlibat dalam regulasi gen lain, penemuan ini dapat berkontribusi pada pengembangan obat yang menargetkan domain ET-nya secara spesifik, tanpa mengganggu fungsi lain dari BRD2.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pembuatan iPSC tidak hanya bergantung pada faktor genetik, tetapi juga pada kondisi metabolik dan struktural sel. Dengan menekan BRD2 dan mengatur biosintesis lipid serta matrisome, kita dapat membuka jalan menuju produksi iPSC yang lebih efisien, aman, dan dapat diaplikasikan secara luas dalam pengobatan regeneratif. Langkah berikutnya adalah menguji pendekatan ini pada sel manusia dan mengevaluasi keamanannya sebelum diterapkan secara klinis.
Referensi
- BRD2 impedes iPSC reprogramming by regulating lipid biosynthesis and the matrisome via its ET tail. Stem cells : nature.com subject feeds. https://www.nature.com/articles/s42003-026-10691-1
