← Beranda
Biomolekuler
Defisiensi TOPORS dan Masa Depan Terapi Sel Punca untuk Osteoporosis

Sebuah studi baru mengungkap bahwa kekurangan protein TOPORS pada sel punca mesenkimal (mesenchymal stem cells) menyebabkan gangguan modifikasi protein TET2. Akibatnya, terjadi metilasi RNA yang berlebihan, yang mendorong sel punca ini berubah menjadi sel lemak alih-alih sel tulang. Temuan ini membuka jalan bagi pengembangan terapi berbasis sel punca yang lebih efektif untuk mengatasi osteoporosis.
DefisiensiTOPORSMasaDepanTerapi
Osteoporosis, atau pengeroposan tulang, adalah kondisi diam-diam yang secara bertahap melemahkan tulang hingga rentan patah. Salah satu aktor kunci dalam penyakit ini adalah sel punca mesenkimal (mesenchymal stem cells/MSCs), yaitu sel induk dewasa yang bertugas memperbaiki jaringan tulang dan lemak. Dalam kondisi sehat, MSCs akan berdiferensiasi (berubah) menjadi osteoblas, yaitu sel pembentuk tulang. Namun pada osteoporosis, keseimbangan ini terganggu: MSCs lebih banyak berubah menjadi adiposit (sel lemak) daripada menjadi tulang.
Sebuah riset terbaru yang diterbitkan di Stem Cells mengungkap mekanisme baru di balik gangguan ini. Peneliti menemukan bahwa protein bernama TOPORS memainkan peran penting dalam menjaga "nasib" sel punca. Kekurangan (defisiensi) TOPORS menyebabkan kegagalan proses SUMOylasi pada protein TET2—sebuah proses kimiawi yang mirip dengan memasang saklar pengatur pada molekul. Tanpa SUMOylasi yang benar, TET2 tidak berfungsi optimal. Akibatnya, terjadi metilasi RNA jenis m5C (5-methylcytosine) yang berlebihan pada MSCs. Metilasi RNA ini ibarat "tanda diam" yang membuat gen-gen pembentuk tulang tidak aktif, sementara gen-gen pembentuk lemak justru menjadi lebih ekspresif.
Secara lebih rinci, hipermetilasi m5C ini memicu peningkatan kadar protein YBX1 yang kemudian mengaktifkan jalur pensinyalan PPARγ. Jalur ini adalah "master regulator" pembentukan sel lemak. Hasil akhirnya adalah MSCs secara massal berubah menjadi sel lemak, bukan sel tulang, sehingga tulang menjadi keropos dan lemah.
Temuan ini sangat relevan bagi pengembangan terapi berbasis sel punca dan kedokteran regeneratif. Saat ini, upaya terapi untuk osteoporosis seringkali hanya menekan kerusakan tulang atau meningkatkan kepadatan tulang secara umum. Namun, dengan mengidentifikasi TOPORS dan TET2 sebagai titik kontrol, para ilmuwan dapat merancang strategi molekuler untuk "membalikkan" arah diferensiasi MSCs.
Contoh aplikasi potensialnya adalah melalui terapi gen atau pemberian molekul kecil yang dapat memulihkan SUMOylasi TET2 pada MSCs pasien. Alternatif lainnya adalah menggunakan induced pluripotent stem cells (iPSCs) yang telah dimodifikasi secara genetik untuk mengekspresikan TOPORS secara stabil, lalu ditransplantasikan ke dalam sumsum tulang. Dengan begitu, sel punca yang ditanam akan kembali cenderung membentuk tulang, bukan lemak.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya regulasi epigenetik—yaitu perubahan pada RNA dan protein yang tidak mengubah urutan DNA—dalam menentukan perilaku sel punca. Kedokteran regeneratif di masa depan tidak hanya akan bergantung pada jenis sel punca yang digunakan, tetapi juga pada cara kita mengatur "saklar" molekuler di dalamnya.
Meskipun masih dalam tahap studi hewan dan laboratorium, hasil riset ini memberikan peta jalan baru: bahwa osteoporosis bukan hanya penyakit kekurangan kalsium, melainkan juga penyakit salah arahnya sel punca. Dengan memahami peran TOPORS dan TET2, para peneliti kini memiliki target yang lebih presisi untuk mengembangkan terapi yang menyembuhkan akar masalah, bukan sekadar gejalanya.
Referensi
- TOPORS Deficiency Impairs TET2 SUMOylation leading to aberrant m5C Hypermethylation that promotes adipogenic differentiation of mesenchymal stem cells in osteoporosis. Stem cells : nature.com subject feeds. https://www.nature.com/articles/s41420-026-03296-4
