Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Biomolekuler

Menguak Mekanisme Gagal Jantung: Studi Banding Sinyal dan Fungsi Sel Jantung dari Pasien Kardiomiopati Dilatasi Berbasis iPSC

dr. Abdul Malik Setiawan, M.Infec.Dis., PhD13 September 2026Biomolekuler

Para peneliti berhasil mengembangkan sel otot jantung dari sel punca pluripoten terinduksi (iPSC) yang berasal dari pasien dengan kardiomiopati dilatasi (DCM). Dengan membandingkan jalur sinyal dan fungsi kontraktil sel-sel tersebut, studi ini mengungkap perbedaan molekuler yang mendasari keragaman respons terapi pada penderita DCM. Temuan ini membuka jalan bagi pengobatan regeneratif yang lebih personal dan berbasis sel punca untuk penyakit jantung.

MenguakMekanismeGagalJantungStudi
Dalam dunia kedokteran regeneratif, sel punca pluripoten terinduksi (iPSC) telah menjadi alat revolusioner untuk mempelajari penyakit manusia di tingkat sel. Salah satu aplikasi paling menjanjikan adalah pembuatan kardiomiosit (sel otot jantung) dari iPSC pasien, yang memungkinkan para ilmuwan merekayasa ulang penyakit jantung di laboratorium. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Stem Cells mengambil langkah maju dengan mengevaluasi dan membandingkan lanskap sinyal serta fungsi dari kardiomiosit yang berasal dari iPSC (hiPSC-CM) milik pasien dengan kardiomiopati dilatasi (DCM). Kardiomiopati dilatasi adalah kondisi di mana ruang pompa utama jantung (ventrikel kiri) membesar dan melemah, sehingga tidak mampu memompa darah secara efisien. Penyakit ini seringkali bersifat herediter dan memiliki variasi klinis yang luas—beberapa pasien memburuk dengan cepat, sementara yang lain stabil dalam waktu lama. Dengan menggunakan teknologi iPSC, peneliti dapat mengambil sampel sel kulit atau darah pasien, memprogram ulang sel-sel tersebut menjadi sel punca, lalu menuntunnya menjadi kardiomiosit. Hasilnya adalah "jantung mini" milik pasien itu sendiri di cawan petri. Studi ini secara khusus membandingkan hiPSC-CM dari beberapa pasien DCM yang memiliki mutasi genetik berbeda. Tim peneliti menganalisis dua aspek utama: jalur sinyal intraseluler (misalnya kaskade pensinyalan kalsium dan MAP kinase) dan fungsi kontraktil (kemampuan sel untuk berdenyut). Mereka menemukan bahwa meskipun semua hiPSC-CM menunjukkan tanda-tanda gagal kontraksi, pola sinyal yang mendasarinya sangat bervariasi antar pasien. Misalnya, pada beberapa sel terjadi disregulasi pensinyalan beta-adrenergik, sementara pada yang lain justru terjadi perubahan pada jalur metabolisme energi mitokondria. Perbedaan ini sangat penting karena menjelaskan mengapa pasien DCM seringkali memberikan respons yang berbeda terhadap obat yang sama. Dengan pemetaan lanskap sinyal dan fungsi yang terperinci, dokter di masa depan dapat menggunakan hiPSC-CM dari pasien tertentu untuk menguji obat secara individual—sebuah pendekatan yang dikenal sebagai "farmakologi personal". Lebih dari itu, temuan ini juga menyoroti potensi terapi berbasis sel punca untuk memperbaiki kerusakan jantung. Jika kita dapat mengoreksi jalur sinyal yang salah pada hiPSC-CM pasien, mungkin kita bisa mengembangkan strategi untuk memperbaiki sel jantung yang rusak secara langsung. Meskipun masih dalam tahap awal, penelitian ini memperkuat peran iPSC sebagai model penyakit yang andal dan sebagai platform untuk penemuan obat. Ke depannya, kombinasi antara iPSC, pengeditan gen (seperti CRISPR), dan rekayasa jaringan akan membawa kita lebih dekat pada pengobatan regeneratif yang benar-benar personal untuk penyakit jantung. Bagi pembaca awam, intisari berita ini sederhana: dengan menggunakan sel punca buatan dari pasien sendiri, para ilmuwan kini dapat "melihat" secara detail apa yang salah di dalam sel jantung mereka, dan itu adalah langkah pertama menuju penyembuhan yang lebih tepat sasaran.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. Evaluating and comparing the signalling and functional landscape of hiPSC-CMs derived from patients with dilated cardiomyopathy. Stem cells : nature.com subject feeds. https://www.nature.com/articles/s44385-026-00111-8