← Beranda
Biomolekuler
Terobosan Baru: Organoid Kelenjar Ludah Fungsional Berhasil Dikembangkan dari Sel Punca Manusia, Siap untuk Transplantasi

Para peneliti berhasil menciptakan organoid kelenjar ludah yang fungsional dan dapat ditransplantasikan dengan menggunakan sel punca pluripoten manusia. Pendekatan yang terinspirasi dari perkembangan embrio ini menghasilkan struktur mirip kelenjar ludah yang mampu mensekresi air liur. Temuan ini membuka jalan baru bagi terapi regeneratif untuk pasien yang mengalami kerusakan kelenjar ludah akibat radioterapi atau penyakit degeneratif.
TerobosanBaruOrganoidKelenjarLudah
Dalam dunia kedokteran regeneratif, kemampuan untuk menumbuhkan kembali organ yang rusak merupakan salah satu tujuan paling ambisius. Kini, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications menunjukkan langkah maju yang signifikan: para ilmuwan berhasil mengembangkan organoid kelenjar ludah dari sel punca pluripoten manusia. Organoid ini tidak hanya menyerupai kelenjar ludah asli secara struktural, tetapi juga berfungsi secara biologis, bahkan dapat ditransplantasikan ke dalam tubuh hewan model.
Kelenjar ludah memiliki peran vital dalam produksi air liur, yang penting untuk pencernaan, menjaga kesehatan mulut, dan perlindungan terhadap infeksi. Namun, kelenjar ini sering rusak akibat radioterapi pada pasien kanker kepala dan leher, atau karena penyakit autoimun seperti sindrom Sjögren. Hingga saat ini, belum ada terapi yang dapat memulihkan fungsi kelenjar ludah secara permanen. Di sinilah riset sel punca berperan.
Studi ini menggunakan sel punca pluripoten manusia, yaitu sel induk yang dapat berdiferensiasi menjadi hampir semua jenis sel dalam tubuh. Sel punca ini bisa berasal dari embrio (sel punca embrionik) atau dari sel dewasa yang diprogram ulang menjadi induced pluripotent stem cells (iPSC). Dengan pendekatan yang disebut development-inspired, para peneliti meniru sinyal alami yang terjadi selama perkembangan embrio untuk memandu sel punca membentuk struktur kelenjar ludah.
Prosesnya melibatkan pemberian serangkaian faktor pertumbuhan dan kondisi kultur tiga dimensi yang meniru lingkungan mikro embrio. Setelah beberapa minggu, sel punca tersebut berkembang menjadi organoid—kumpulan sel kecil yang terorganisir menyerupai kelenjar ludah mini. Organoid ini memiliki saluran dan unit sekretori yang mirip dengan kelenjar ludah asli. Yang lebih penting, ketika diuji, organoid tersebut mampu memproduksi dan mensekresi protein khas air liur, menunjukkan fungsionalitas yang nyata.
Tidak berhenti di situ, tim peneliti juga menguji kemampuan transplantasi organoid ini. Mereka menanamkan organoid ke dalam tikus yang kelenjar ludahnya telah rusak. Hasilnya, organoid tersebut berintegrasi dengan jaringan inang dan mulai berfungsi, menghasilkan air liur dalam jumlah yang signifikan. Ini adalah bukti konsep bahwa organoid dari sel punca pluripoten dapat digunakan sebagai terapi regeneratif untuk menggantikan jaringan kelenjar ludah yang rusak.
Meskipun masih dalam tahap eksperimental, temuan ini membawa harapan baru bagi pasien yang menderita kekeringan mulut kronis atau gangguan kelenjar ludah lainnya. Ke depan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas jangka panjang, termasuk uji coba pada manusia. Namun, langkah ini menunjukkan betapa besarnya potensi sel punca—baik embrionik maupun iPSC—dalam menciptakan organ fungsional untuk transplantasi. Dengan pendekatan yang terinspirasi dari alam, kedokteran regeneratif semakin mendekati mimpinya: memperbaiki tubuh dari dalam dengan sel-sel yang tumbuh sendiri.
Referensi
- Development-inspired approach for the derivation of functional and transplantable salivary gland organoids from human pluripotent stem cells. Stem cells : nature.com subject feeds. https://www.nature.com/articles/s41467-026-77724-5
