Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Keperawatan Komunitas

Membagi Peran Manusia dan Robot dalam Perawatan Lansia di Rumah: Sebuah Studi Keperawatan Komunitas

Dr. ns. Apriyani Puji Hastuti, M.Kep16 Oktober 2026Keperawatan Komunitas

Sebuah studi kualitatif terbaru yang diterbitkan dalam International Journal of Nursing Studies mengeksplorasi bagaimana perawat komunitas, lansia dengan disabilitas, dan keluarga memandang pembagian kerja antara manusia dan robot dalam perawatan di rumah. Penelitian ini menyoroti bahwa meskipun robot dapat membantu tugas fisik, sentuhan manusia dan penilaian klinis perawat tetap tidak tergantikan. Temuan ini memberikan arahan penting bagi pengembangan asuhan keperawatan berbasis komunitas di era teknologi.

MembagiPeranManusiaRobotdalam
Perkembangan teknologi robotik semakin merambah ke berbagai bidang, termasuk pelayanan kesehatan. Di tengah meningkatnya jumlah lansia dengan keterbatasan fungsi, perawatan di rumah menjadi salah satu pilar utama keperawatan komunitas. Namun, pertanyaan mendasar muncul: sejauh mana robot dapat menggantikan peran manusia, khususnya perawat, dalam memberikan asuhan? Sebuah studi kualitatif deskriptif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan—perawat komunitas, lansia dengan disabilitas, dan anggota keluarga—mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan memetakan pembagian kerja ideal antara manusia dan robot. Penelitian yang dilakukan oleh Cui dan rekannya ini melibatkan wawancara mendalam dengan partisipan yang memiliki pengalaman langsung dalam perawatan jangka panjang di rumah. Hasilnya menunjukkan bahwa robot dianggap paling bermanfaat untuk tugas-tugas yang bersifat repetitif, fisik, dan berisiko, seperti mengangkat pasien dari tempat tidur ke kursi roda, memantau tanda-tanda vital secara berkala, atau mengingatkan jadwal minum obat. Tugas-tugas ini memang menguras tenaga dan seringkali menjadi beban bagi keluarga serta berisiko menyebabkan cedera pada perawat. Namun, para partisipan secara tegas menyatakan bahwa robot tidak dapat menggantikan esensi keperawatan. Kemampuan untuk merasakan emosi, memberikan kenyamanan psikologis, melakukan komunikasi terapeutik, dan mengambil keputusan klinis yang kompleks tetap menjadi ranah eksklusif manusia. Perawat komunitas dianggap memiliki peran sentral dalam mengoordinasikan teknologi ini. Mereka bukan sekadar pengguna alat, melainkan pengelola asuhan yang mengintegrasikan data dari robot dengan penilaian langsung terhadap kondisi pasien. Misalnya, ketika robot melaporkan penurunan aktivitas fisik seorang lansia, perawatlah yang akan menggali lebih dalam penyebabnya—apakah karena nyeri, depresi, atau komplikasi medis—sesuatu yang tidak dapat dilakukan robot. Dinamika menarik muncul dari sudut pandang lansia dan keluarga. Sebagian besar lansia merasa lebih nyaman dengan bantuan manusia, terutama untuk aktivitas yang bersifat pribadi seperti mandi dan berpakaian. Mereka menganggap robot sebagai alat yang "dingin" dan kurang peka. Di sisi lain, keluarga merasa terbantu dengan kehadiran robot yang dapat mengurangi beban pengawasan terus-menerus. Hal ini menunjukkan bahwa penerimaan teknologi sangat dipengaruhi oleh jenis tugas dan tingkat keintiman yang terlibat. Studi ini menegaskan bahwa masa depan perawatan di rumah bukanlah tentang mengganti perawat dengan robot, melainkan menciptakan kolaborasi sinergis. Robot berperan sebagai asisten yang memperluas jangkauan dan kemampuan perawat, sementara perawat berperan sebagai otak dan hati dari sistem perawatan tersebut. Bagi praktik keperawatan komunitas, temuan ini menekankan perlunya kurikulum dan pelatihan yang membekali perawat dengan keterampilan literasi teknologi, manajemen data, dan etika penggunaan robot. Perawat juga perlu diposisikan sebagai pemimpin dalam proses adopsi teknologi ini, memastikan bahwa keputusan tentang kapan dan bagaimana menggunakan robot selalu berpusat pada kebutuhan dan martabat pasien, bukan sekadar efisiensi. Lebih jauh, penelitian ini menyoroti pentingnya kebijakan yang mendukung integrasi teknologi tanpa mengabaikan aspek humanistik. Rumah sakit dan puskesmas yang memiliki program home care perlu menyusun protokol jelas tentang pembagian tugas ini, termasuk mekanisme pengawasan dan evaluasi. Dengan demikian, keperawatan komunitas dapat memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup lansia, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai inti profesi yang menjunjung tinggi kepedulian dan hubungan antarmanusia.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. The human-robot division of labor in home care for older adults with disabilities: A multi-stakeholder qualitative descriptive study. ScienceDirect Publication: International Journal of Nursing Studies. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0020748926003901?dgcid=rss_sd_all