Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Keperawatan Komunitas

WHO: Hingga 45% Risiko Demensia Dapat Dicegah atau Ditunda

Dr. ns. Apriyani Puji Hastuti, M.Kep17 Juli 2026Keperawatan Komunitas

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis pedoman terbaru yang menunjukkan bahwa hingga 45% risiko demensia dapat dicegah atau ditunda dengan mengelola faktor-faktor yang dapat diubah, seperti merokok, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, polusi udara, dan penyakit tidak menular. Pedoman ini memberikan rekomendasi berbasis bukti bagi negara-negara untuk melindungi kesehatan kognitif masyarakat sepanjang hidup.

WHOHinggaRisikoDemensiaDapat
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja memperbarui pedoman global tentang pengurangan risiko penurunan kognitif dan demensia. Dalam pernyataan yang dirilis pada 15 Juli 2026, WHO menekankan bahwa meskipun belum ada obat yang dapat menyembuhkan demensia, hingga 45% dari risiko penyakit ini dapat dicegah atau ditunda. Demensia, yang paling sering disebabkan oleh penyakit Alzheimer (mencakup 60–70% kasus), adalah kondisi yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, dan fungsi sehari-hari. Saat ini, lebih dari 57 juta orang di dunia hidup dengan demensia, dan hampir 10 juta kasus baru didiagnosis setiap tahun. Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa pengetahuan tentang faktor risiko demensia kini semakin maju. Pedoman baru ini menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam langkah-langkah konkret yang dapat segera diterapkan oleh setiap negara. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi meliputi kebiasaan tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, kurangnya interaksi sosial, gaya hidup yang tidak aktif, serta paparan polusi udara. Selain itu, penyakit tidak menular seperti tekanan darah tinggi dan diabetes juga berkontribusi signifikan terhadap risiko demensia. Tidak hanya mengancam kesehatan, demensia juga merampas kemandirian, martabat, dan rasa aman seseorang. Pedoman yang diperbarui ini merekomendasikan berbagai intervensi gaya hidup sehat untuk mengurangi risiko demensia, termasuk latihan kognitif dan stimulasi sosial bagi orang dewasa dengan fungsi kognitif normal atau gangguan kognitif ringan. WHO juga menambahkan rekomendasi baru untuk mengurangi paparan polusi udara, selain anjuran meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, dan mengadopsi pola makan sehat. Pengelolaan kondisi kardiometabolik seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi juga dapat membantu menurunkan risiko. Lebih lanjut, penggunaan alat bantu dengar disarankan sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko. Menariknya, pedoman ini tidak merekomendasikan suplementasi vitamin B, vitamin E, asam lemak omega-3, atau multivitamin dan mineral untuk mencegah penurunan kognitif atau demensia, kecuali jika ada kekurangan nutrisi yang terdiagnosis. Hal ini karena bukti ilmiah yang ada belum menunjukkan manfaat yang cukup untuk mengimbangi risiko efek samping yang tidak diinginkan. Dari segi ekonomi, demensia menimbulkan beban yang sangat besar. Diperkirakan biaya global mencapai 1,3 triliun dolar AS per tahun, dengan sekitar setengahnya berasal dari perawatan tidak berbayar yang diberikan oleh keluarga dan teman. Dengan memahami faktor risiko dan mengambil tindakan pencegahan sejak dini, kualitas hidup masyarakat dapat meningkat, membantu mereka hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih mandiri. Pedoman WHO ini diharapkan menjadi landasan bagi integrasi yang lebih kuat antara layanan penyakit tidak menular, kesehatan mental, dan kesehatan otak di berbagai negara.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. New WHO guidelines: up to 45% of dementia risk could be prevented or delayed. News (English) - World Health Organization. https://www.who.int/news/item/15-07-2026-new-who-guidelines--up-to-45--of-dementia-risk-could-be-prevented-or-delayed