Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Kedokteran Klinis

Puasa Intermiten Terbukti Bantu Pertahankan Berat Badan hingga Setahun

dr. Abdul Malik Setiawan, M.Infec.Dis., PhD18 Juli 2026Kedokteran Klinis

Program puasa intermiten selama 12 minggu memberikan manfaat penurunan berat badan yang masih terlihat jelas setahun kemudian. Partisipan yang hanya makan dalam jendela waktu delapan jam setiap hari berhasil mempertahankan lebih banyak penurunan berat badan dibandingkan mereka yang mengikuti jadwal makan biasa. Baik jendela puasa pagi maupun sore sama-sama efektif, namun puasa di awal hari tampak sangat membantu dalam mempertahankan lemak tubuh.

PuasaIntermitenTerbuktiBantuPertahankan
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal ilmiah mengungkapkan bahwa metode puasa intermiten/intermittent fasting dengan jendela makan terbatas (time-restricted eating) tidak hanya efektif untuk menurunkan berat badan dalam jangka pendek, tetapi juga membantu mempertahankan hasilnya dalam jangka panjang. Penelitian ini melibatkan sekelompok partisipan yang menjalani program puasa intermiten selama 12 minggu, dan hasilnya menunjukkan bahwa manfaat penurunan berat badan masih terlihat jelas satu tahun setelah program berakhir. Dalam studi tersebut, para peneliti membagi partisipan menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama menerapkan pola makan terbatas waktu, yaitu hanya diperbolehkan makan dalam jangka waktu delapan jam setiap hari. Kelompok kedua tetap mengikuti jadwal makan biasa yang lebih panjang, tanpa batasan waktu khusus. Hasilnya, kelompok yang menjalani puasa intermiten menunjukkan penurunan berat badan yang lebih signifikan, dan yang lebih menarik, mereka mampu mempertahankan berat badan yang sudah turun hingga satu tahun kemudian. Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa baik jangka waktu puasa di awal hari (misalnya, makan dari pukul 08.00 hingga 16.00) maupun jangka waktu puasa di akhir hari (misalnya, makan dari pukul 12.00 hingga 20.00) sama-sama memberikan hasil yang positif. Namun, para peneliti mencatat bahwa jendela puasa di awal hari tampak memberikan keuntungan tambahan dalam hal mempertahankan lemak tubuh. Partisipan yang makan lebih awal cenderung mengalami penurunan lemak yang lebih besar dan lebih stabil dibandingkan mereka yang makan lebih larut. Mekanisme dibalik efektivitas puasa intermiten ini berkaitan dengan ritme sirkadian tubuh, yaitu jam biologis alami yang mengatur berbagai fungsi metabolisme. Dengan membatasi waktu makan, tubuh memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat dari proses pencernaan dan beralih ke mode pembakaran lemak. Selain itu, intermittent fasting juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi peradangan, yang semuanya berkontribusi pada pengelolaan berat badan yang lebih baik. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa keberhasilan metode ini tidak hanya bergantung pada waktu makan, tetapi juga pada kualitas dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Pola makan yang sehat dan seimbang tetap menjadi kunci utama. Intermittent fasting bukanlah izin untuk makan berlebihan saat jangka waktu makan terbuka. Sebaliknya, metode ini harus dijalankan dengan kesadaran penuh terhadap asupan nutrisi. Meskipun hasil studi ini menjanjikan, para ahli tetap menekankan pentingnya konsultasi dengan tenaga medis sebelum memulai program puasa intermiten, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes, gangguan makan, atau wanita hamil dan menyusui. Setiap tubuh memiliki respons yang berbeda, sehingga pendekatan yang personal sangat dianjurkan. Secara keseluruhan, penelitian ini memperkuat bukti bahwa puasa intermiten bukan sekadar tren diet musiman, melainkan strategi yang dapat diandalkan untuk pengelolaan berat badan jangka panjang. Dengan kemampuannya mempertahankan hasil hingga setahun, metode ini layak dipertimbangkan sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. Intermittent fasting helped people keep weight off for a year. Health & Medicine News -- ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260718010154.htm