Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Manajemen Kesehatan

Studi Terbaru Membantah Angapan Umum soal Vitamin D dan Sinar Matahari

dr. Abdul Malik Setiawan, M.Infec.Dis., PhD24 Juli 2026Manajemen Kesehatan

Sebuah studi yang melibatkan hampir 300 partisipan di Inggris utara mengungkapkan bahwa kadar vitamin D tetap rendah sepanjang tahun pada kelompok yang berisiko tinggi. Temuan mengejutkan lainnya adalah paparan sinar matahari musim panas tidak secara signifikan meningkatkan kadar vitamin D pada lansia dan individu dari latar belakang etnis minoritas.

StudiTerbaruMembantahAngapanUmum
Selama ini, banyak orang meyakini bahwa berjemur di bawah sinar matahari pagi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D, terutama di musim panas. Namun, sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Inggris utara justru menunjukkan fakta sebaliknya, khususnya bagi kelompok yang paling rentan mengalami defisiensi vitamin D. Studi yang melibatkan hampir 300 partisipan ini menemukan bahwa kadar vitamin D dalam darah tetap rendah sepanjang tahun pada kelompok berisiko tinggi, meskipun mereka tinggal di wilayah yang mendapatkan sinar matahari cukup banyak selama musim panas. Yang lebih mengejutkan, paparan sinar matahari musim panas tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kadar vitamin D pada orang dewasa yang lebih tua, serta individu yang berasal dari latar belakang etnis minoritas. Vitamin D dikenal sebagai "vitamin sinar matahari" karena tubuh kita memproduksinya saat kulit terpapar sinar UVB dari matahari. Zat ini sangat penting untuk kesehatan tulang, sistem kekebalan tubuh, dan berbagai fungsi vital lainnya. Kekurangan vitamin D dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko osteoporosis, infeksi, dan gangguan autoimun. Para peneliti menduga bahwa beberapa faktor berkontribusi terhadap temuan ini. Pertama, kemampuan kulit untuk memproduksi vitamin D menurun seiring bertambahnya usia. Kedua, pada kelompok etnis minoritas dengan warna kulit lebih gelap, pigmen melanin justru menghalangi penyerapan sinar UVB, sehingga produksi vitamin D menjadi kurang efisien. Ketiga, faktor gaya hidup seperti kebiasaan menggunakan tabir surya, menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan, atau tinggal di daerah dengan intensitas sinar matahari rendah juga turut berperan. Temuan ini menjadi pengingat penting bahwa mengandalkan sinar matahari saja, terutama di daerah beriklim subtropis atau utara, mungkin tidak cukup untuk mempertahankan kadar vitamin D yang optimal pada kelompok tertentu. Para ahli menyarankan agar kelompok berisiko tinggi, seperti lansia, individu berkulit gelap, dan mereka yang jarang terpapar sinar matahari, mempertimbangkan asupan vitamin D dari sumber makanan atau suplemen sesuai anjuran tenaga kesehatan. Makanan seperti ikan berlemak (salmon, sarden, tuna), hati sapi, kuning telur, serta produk susu dan sereal yang diperkaya vitamin D dapat menjadi alternatif. Namun, konsultasi dengan dokter tetap diperlukan untuk menentukan dosis suplemen yang tepat, karena kelebihan vitamin D juga dapat menimbulkan efek samping. Dengan demikian, studi ini menantang asumsi umum bahwa berjemur di musim panas menjamin kecukupan vitamin D. Pendekatan yang lebih personal dan berbasis bukti medis diperlukan, terutama bagi mereka yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. Study challenges a common belief about vitamin D and sunlight. Health Policy News -- ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260623083104.htm