← Beranda
Kedokteran Klinis
Kehilangan Lemak yang Salah Justru Bisa Memicu Diabetes, Temuan Studi Terbaru

Sebuah studi ilmiah mengungkap bahwa bukan hanya kelebihan lemak yang berbahaya, tetapi kehilangan jaringan lemak sehat juga dapat memicu diabetes. Para peneliti menemukan bahwa sel-sel lemak yang rusak dapat meradang, kehilangan kemampuannya menyimpan lipid, dan akhirnya menghilang, sehingga mengganggu metabolisme tubuh.
KehilanganLemakSalahJustruBisa
Selama ini, diabetes tipe 2 sering dikaitkan dengan obesitas dan penumpukan lemak berlebih. Namun, sebuah temuan baru dari para ilmuwan justru membalikkan paradigma tersebut. Riset yang dipublikasikan di jurnal sains terkemuka menunjukkan bahwa bukan hanya kelebihan lemak yang menjadi masalah, melainkan kehilangan jenis lemak yang tepat juga dapat menjadi pemicu utama penyakit metabolik ini.
Para peneliti menemukan bahwa ketika sel-sel lemak (adiposit) mengalami kerusakan, mereka tidak hanya berhenti berfungsi secara normal, tetapi juga memicu reaksi berantai yang berbahaya. Sel-sel yang rusak ini mengalami peradangan kronis, kehilangan kemampuan vitalnya untuk menyimpan lemak (lipid), dan pada akhirnya mati dan lenyap dari jaringan. Proses ini secara diam-diam mengubah komposisi tubuh dan mengganggu keseimbangan metabolisme glukosa.
Lemak atau jaringan adiposa bukan sekadar timbunan energi pasif. Jaringan ini merupakan organ endokrin aktif yang menghasilkan berbagai hormon dan sinyal kimia yang mengatur nafsu makan, sensitivitas insulin, dan pembakaran kalori. Ketika sel-sel lemak yang sehat hilang atau rusak, fungsi regulasi ini terganggu. Akibatnya, tubuh menjadi resisten terhadap insulin—kondisi di mana sel-sel otot, hati, dan jaringan lain tidak lagi merespons insulin dengan baik, sehingga gula darah melonjak dan berujung pada diabetes tipe 2.
Yang menarik, temuan ini menjelaskan mengapa beberapa orang dengan indeks massa tubuh (IMT) normal atau rendah tetap bisa mengembangkan diabetes. Kondisi ini sering disebut sebagai “diabetes pada orang kurus” atau metabolically obese normal weight (MONW). Pada kasus seperti ini, individu mungkin kehilangan lemak subkutan yang sehat (lemak di bawah kulit) yang seharusnya berfungsi sebagai “penyimpan aman” kelebihan energi. Tanpa lemak subkutan yang memadai, kelebihan lipid kemudian mengalir ke organ-organ lain seperti hati dan pankreas, menyebabkan lipotoksisitas yang merusak sel beta penghasil insulin.
Para peneliti menekankan bahwa menjaga kesehatan jaringan lemak sama pentingnya dengan mengontrol jumlah lemak total. Olahraga teratur, pola makan anti-inflamasi, dan menghindari stres oksidatif dapat membantu menjaga fungsi sel-sel lemak tetap optimal. Dengan kata lain, target pengelolaan diabetes tidak boleh hanya berfokus pada penurunan berat badan, tetapi juga pada kualitas dan fungsi dari jaringan lemak yang tersisa.
Penemuan ini membuka jalan bagi pendekatan terapi baru yang tidak hanya membakar lemak, tetapi juga melindungi dan meregenerasi sel-sel lemak yang sehat. Dengan memahami bahwa kehilangan lemak yang salah bisa sama berbahayanya dengan kelebihan lemak, para dokter kini dapat merancang strategi pencegahan dan pengobatan diabetes yang lebih presisi dan personal.
Referensi
- Why losing the wrong fat can trigger diabetes. Health & Medicine News -- ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2026/07/260726015259.htm
