Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Manajemen Kesehatan

Studi Besar: Remaja Pengguna Ganja Berisiko Dua Kali Lipat Alami Gangguan Mental Serius

dr. Abdul Malik Setiawan, M.Infec.Dis., PhD28 Juli 2026Manajemen Kesehatan

Sebuah studi besar yang melibatkan lebih dari 463.000 remaja menemukan bahwa penggunaan ganja pada masa remaja dikaitkan dengan peningkatan risiko signifikan terhadap gangguan mental serius, termasuk gangguan psikotik dan bipolar. Risiko tersebut tercatat hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan remaja yang tidak menggunakan ganja. Temuan ini memperkuat kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang ganja terhadap otak yang masih dalam tahap perkembangan.

StudiBesarRemajaPenggunaGanja
Sebuah penelitian berskala besar yang baru saja dipublikasikan memberikan bukti baru yang menguatkan hubungan antara penggunaan ganja pada remaja dengan risiko gangguan mental serius. Studi yang melibatkan data lebih dari 463.000 remaja ini menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan ganja memiliki kemungkinan hampir dua kali lipat lebih besar untuk mengalami gangguan psikotik, seperti skizofrenia, serta gangguan bipolar, dibandingkan dengan remaja yang tidak pernah mengonsumsi zat tersebut. Para peneliti mengamati bahwa dalam banyak kasus, penggunaan ganja mendahului diagnosis gangguan mental tersebut dengan rentang waktu rata-rata hampir dua tahun. Pola ini memperkuat dugaan bahwa ganja bukan sekadar faktor penyerta, melainkan berpotensi menjadi pemicu atau mempercepat munculnya kondisi kejiwaan yang serius pada individu yang rentan. Temuan ini sangat relevan mengingat masa remaja merupakan periode kritis perkembangan otak, di mana struktur dan fungsi otak masih terus matang hingga usia awal dua puluhan. Studi ini menggunakan data dari catatan kesehatan elektronik dan survei populasi yang mencakup remaja berusia 12 hingga 19 tahun. Para peneliti mengontrol berbagai faktor perancu seperti status sosial ekonomi, riwayat kesehatan mental keluarga, dan penggunaan zat lain. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa penelitian ini bersifat observasional, sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak. Namun, besarnya sampel dan konsistensi temuan memberikan bobot ilmiah yang kuat terhadap kesimpulan yang dihasilkan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama adalah jenis gangguan mental yang muncul. Gangguan psikotik, yang ditandai dengan hilangnya kontak dengan kenyataan seperti halusinasi dan delusi, serta gangguan bipolar yang melibatkan perubahan suasana hati ekstrem, merupakan kondisi yang memerlukan penanganan jangka panjang dan sering kali mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Temuan bahwa ganja dapat menggandakan risiko kondisi-kondisi ini menjadi peringatan serius, terutama di tengah meningkatnya legalisasi dan akses terhadap ganja di berbagai negara. Para ahli menekankan bahwa otak remaja sangat rentan terhadap efek zat psikoaktif seperti tetrahydrocannabinol (THC), komponen utama ganja yang bertanggung jawab atas efek psikotropika. Paparan THC pada masa perkembangan dapat mengganggu sistem neurotransmitter, khususnya dopamin, yang berperan penting dalam pengaturan suasana hati, motivasi, dan persepsi. Gangguan pada sistem ini sejak dini dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan mental di kemudian hari. Temuan studi ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi kebijakan kesehatan masyarakat yang lebih ketat, terutama dalam hal pencegahan penggunaan ganja pada remaja. Edukasi mengenai risiko kesehatan mental perlu ditingkatkan, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun komunitas. Selain itu, para tenaga kesehatan juga disarankan untuk lebih waspada terhadap tanda-tanda awal gangguan mental pada remaja yang diketahui menggunakan ganja. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa penggunaan ganja pada usia muda bukanlah aktivitas tanpa risiko. Meskipun ganja sering dianggap sebagai zat yang relatif aman dibandingkan narkotika lain, bukti ilmiah terus menunjukkan bahwa dampaknya terhadap kesehatan mental, khususnya pada populasi remaja, tidak boleh dianggap remeh. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami mekanisme biologis yang mendasari hubungan ini, namun untuk saat ini, langkah pencegahan tetap menjadi prioritas utama.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. Massive study links teen marijuana use to double the risk of serious mental illness. Health Policy News -- ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260622091515.htm