Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Manajemen Kesehatan

Sebagian Besar Pasien yang Berhenti Minum Obat GLP-1 seperti Ozempic Akhirnya Kembali ke Pengobatan

dr. Abdul Malik Setiawan, M.Infec.Dis., PhD3 Agustus 2026Manajemen Kesehatan

Penelitian terbaru mengungkap bahwa banyak pasien diabetes tipe 2 yang menggunakan obat golongan GLP-1 (seperti Ozempic, Victoza, atau tirzepatide) berhenti meminumnya dalam beberapa waktu. Namun, cukup mengejutkan, sebagian besar dari mereka akhirnya kembali menjalani terapi. Temuan ini menunjukkan bahwa obat-obatan generasi baru mampu mempertahankan kepatuhan pasien lebih lama, meskipun efek samping masih menjadi alasan utama penghentian pengobatan.

SebagianBesarPasienBerhentiMinum
Dalam dunia pengobatan diabetes tipe 2, obat golongan GLP-1 receptor agonists seperti Ozempic, Victoza, dan tirzepatide telah menjadi andalan karena efektivitasnya dalam mengontrol gula darah dan membantu penurunan berat badan. Namun, sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal kesehatan mengungkap pola yang menarik: banyak pasien yang memulai terapi ini justru berhenti di tengah jalan, tetapi sebagian besar dari mereka akhirnya kembali lagi. Peneliti menganalisis data dari ribuan pasien diabetes tipe 2 yang baru pertama kali mendapatkan resep obat GLP-1. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam satu tahun pertama, sekitar separuh pasien menghentikan pengobatan. Alasan paling umum adalah efek samping seperti mual, muntah, diare, atau gangguan pencernaan lainnya. Namun, yang menarik adalah bahwa dalam dua hingga tiga tahun setelahnya, lebih dari 60 persen dari mereka yang berhenti ternyata kembali menjalani terapi dengan obat serupa atau jenis lain dalam golongan yang sama. Para ahli menjelaskan bahwa fenomena ini bisa terjadi karena beberapa faktor. Pertama, pasien mungkin merasa bahwa manfaat pengendalian gula darah dan penurunan berat badan yang signifikan lebih berharga daripada ketidaknyamanan efek samping awal. Kedua, dokter mungkin menyesuaikan dosis atau mengganti jenis obat GLP-1 yang lebih baru dengan profil efek samping yang lebih ringan. Obat-obatan generasi terbaru, seperti tirzepatide, memang dirancang untuk memiliki tolerabilitas yang lebih baik, sehingga pasien lebih mampu bertahan dalam pengobatan. Studi ini juga menemukan bahwa pasien yang menggunakan obat GLP-1 yang lebih baru cenderung bertahan lebih lama dibandingkan mereka yang menggunakan versi lama. Ini menunjukkan bahwa inovasi farmasi terus berupaya mengurangi hambatan kepatuhan, terutama masalah efek samping. Meskipun demikian, tetap ada sebagian kecil pasien yang benar-benar berhenti dan tidak kembali, biasanya karena efek samping yang parah atau biaya pengobatan yang tinggi. Temuan ini memberikan gambaran realistis kepada para dokter dan pasien bahwa berhenti minum obat GLP-1 bukanlah akhir dari perjalanan pengobatan. Banyak pasien yang pada akhirnya menyadari bahwa mengelola diabetes tipe 2 membutuhkan komitmen jangka panjang, dan obat-obatan ini tetap menjadi pilihan utama meskipun ada tantangan di awal. Para peneliti berharap hasil studi ini dapat membantu tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi yang lebih baik kepada pasien tentang apa yang bisa diharapkan saat memulai terapi GLP-1, termasuk kemungkinan efek samping sementara dan pentingnya tidak menyerah begitu saja. Dengan demikian, bagi Anda atau anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan diabetes dengan obat golongan GLP-1, jangan berkecil hati jika mengalami efek samping di awal. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk mencari solusi, karena kemungkinan besar Anda akan kembali merasakan manfaat jangka panjang dari terapi ini.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. Most people who stop GLP-1 drugs like Ozempic eventually return. Health Policy News -- ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2026/06/260615033838.htm