Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Biomolekuler

Terobosan Baru MS: Kombinasi Sel Punca dan Obat Oral Tingkatkan Regenerasi Saraf

dr. Abdul Malik Setiawan, M.Infec.Dis., PhD14 Agustus 2026Biomolekuler

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa kombinasi obat oral Ponesimod dengan sel punca epitel amnion (amniotic epithelial stem cells) mampu memperbaiki kerusakan saraf pada model hewan multiple sclerosis (MS) secara lebih efektif dibandingkan terapi tunggal. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi peradangan, tetapi juga mendorong regenerasi selubung myelin yang melindungi serabut saraf. Temuan ini membuka jalan baru bagi pengembangan terapi berbasis sel punca untuk penyakit neurodegeneratif.

TerobosanBaruKombinasiSelPunca
Multiple sclerosis (MS) adalah penyakit autoimun kronis yang menyerang sistem saraf pusat. Pada MS, sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang selubung myelin, lapisan pelindung yang menyelubungi serabut saraf, sehingga menyebabkan gangguan sinyal listrik antar sel saraf. Akibatnya, penderita MS sering mengalami gejala seperti kelemahan otot, gangguan penglihatan, dan masalah koordinasi gerak. Hingga saat ini, sebagian besar terapi MS hanya berfokus pada menekan peradangan, namun belum mampu memperbaiki kerusakan myelin yang sudah terjadi. Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal Stem Cells (Nature), para peneliti mengeksplorasi pendekatan baru dengan menggabungkan dua strategi: anti-inflamasi dan regeneratif. Mereka menggunakan Ponesimod, obat oral yang sudah disetujui untuk MS, yang bekerja dengan menghambat migrasi sel imun ke otak. Obat ini dikombinasikan dengan sel punca epitel amnion (AESCs), yaitu sel punca dewasa yang diambil dari jaringan amnion (selaput ketuban) manusia. AESCs dikenal memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel dan memproduksi faktor pertumbuhan yang mendukung perbaikan jaringan. Untuk menguji efektivitas kombinasi ini, para peneliti menggunakan model hewan MS yang disebut Cuprizone. Tikus diberi Cuprizone dalam makanan, yang secara selektif merusak sel-sel penghasil myelin (oligodendrosit) di otak, mirip dengan proses kerusakan pada MS. Setelah kerusakan terjadi, kelompok tikus kemudian menerima terapi: ada yang hanya diberi Ponesimod, ada yang hanya diberi AESCs, dan ada yang diberi kombinasi keduanya. Hasilnya menunjukkan efek sinergis yang luar biasa. Dibandingkan terapi tunggal, kombinasi Ponesimod dan AESCs secara signifikan meningkatkan jumlah sel-sel yang menghasilkan myelin baru di area otak yang rusak. Lebih penting lagi, penebalan selubung myelin yang baru terbentuk lebih signifikan pada kelompok kombinasi. Dari sisi peradangan, kombinasi ini juga mampu menurunkan jumlah sel imun pro-inflamasi di otak, seperti sel mikroglia dan makrofag, yang biasanya memperparah kerusakan pada MS. Penelitian ini memberikan harapan baru bagi pengembangan terapi regeneratif untuk MS. Pendekatan ini tidak hanya memperlambat perkembangan penyakit, tetapi juga secara aktif memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi. Meskipun masih memerlukan uji klinis pada manusia, temuan ini menunjukkan bahwa masa depan pengobatan MS mungkin akan bergantung pada kombinasi antara obat anti-inflamasi yang sudah ada dengan potensi regeneratif dari terapi sel punca. Ini juga membuka peluang untuk menerapkan prinsip yang sama pada penyakit neurodegeneratif lain, seperti Alzheimer dan Parkinson, di mana kerusakan sel saraf menjadi ciri utama.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. The synergistic regenerative and anti-inflammatory effects of Ponesimod and amniotic epithelial stem cells in the Cuprizone animal model of multiple sclerosis. Stem cells : nature.com subject feeds. https://www.nature.com/articles/s41598-026-66821-6