Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Kedokteran Klinis

Ilmuwan Ungkap Alasan Berjalan Kaki Semakin Berat Seiring Bertambahnya Usia

dr. Abdul Malik Setiawan, M.Infec.Dis., PhD18 Agustus 2026Kedokteran Klinis

Seiring bertambahnya usia, tubuh tampaknya mengorbankan efisiensi berjalan demi stabilitas. Orang lanjut usia cenderung mengunci pergelangan kaki lebih kaku saat melangkah, sebuah mekanisme yang mungkin membantu mencegah jatuh namun membuat otot bekerja lebih keras dengan hasil gerakan maju yang lebih sedikit. Akibatnya, langkah menjadi lebih pendek, kecepatan menurun, dan kelelahan lebih cepat datang.

IlmuwanUngkapAlasanBerjalanKaki
Berjalan kaki, aktivitas yang terasa sederhana dan otomatis di masa muda, perlahan berubah menjadi tantangan tersendiri seiring bertambahnya usia. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah mengungkap mekanisme fisiologis yang mendasari perubahan ini, menjelaskan mengapa lansia sering kali berjalan lebih lambat, langkah lebih pendek, dan lebih mudah lelah. Tim peneliti menemukan bahwa adaptasi utama terletak pada sendi pergelangan kaki. Pada orang dewasa muda, pergelangan kaki bekerja secara fleksibel menyerap dan melepaskan energi saat berjalan. Namun, pada lansia, tubuh secara alami beralih ke pola yang lebih kaku. Setiap langkah, pergelangan kaki “dikunci” pada posisi tertentu untuk menciptakan fondasi yang lebih stabil. Strategi ini merupakan respons protektif tubuh terhadap risiko jatuh yang meningkat seiring melemahnya keseimbangan dan kekuatan otot. Sayangnya, pengorbanan ini memiliki konsekuensi biomekanis yang signifikan. Kekakuan pergelangan kaki mengubah cara otot-otot di tungkai bawah, terutama otot betis dan otot depan tulang kering, bekerja. Alih-alih mendorong tubuh maju secara efisien, energi yang dikeluarkan otot justru sebagian besar terbuang untuk mempertahankan postur kaku tersebut. Akibatnya, efisiensi berjalan menurun drastis. Para peneliti menyebutkan bahwa untuk setiap langkah, lansia harus mengerahkan kekuatan otot yang lebih besar dibandingkan orang muda, namun menghasilkan momentum maju yang lebih kecil. Dampak langsung dari mekanisme ini adalah perubahan pola jalan yang khas pada usia lanjut: langkah yang lebih pendek, kecepatan berjalan melambat, dan waktu “double support” atau saat kedua kaki menyentuh tanah menjadi lebih lama. Semua ini adalah kompensasi alami tubuh untuk menjaga keseimbangan. Namun, konsekuensinya tidak berhenti di situ. Karena otot harus bekerja ekstra setiap langkah, kelelahan otot terjadi lebih cepat. Hal ini menjelaskan mengapa lansia sering kali tidak mampu berjalan jarak jauh atau untuk waktu yang lama seperti saat mereka muda. Temuan ini membuka jalan bagi intervensi yang lebih tepat sasaran. Alih-alih menerima penurunan kemampuan berjalan sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, para peneliti menekankan pentingnya latihan yang spesifik. Fokus utama harus pada pelatihan keseimbangan dan koordinasi untuk membantu tubuh beradaptasi tanpa harus mengorbankan efisiensi berjalan. Selain itu, penguatan otot-otot tungkai bawah, terutama otot di sekitar pergelangan kaki, sangat krusial. Otot yang lebih kuat dapat memberikan stabilitas yang dibutuhkan tanpa perlu mengunci sendi secara kaku. Latihan seperti berdiri satu kaki, berjalan di permukaan tidak rata, atau gerakan mengangkat tumit secara perlahan dapat membantu mempertahankan fleksibilitas dan kekuatan pergelangan kaki. Dengan memahami bahwa perubahan pada pergelangan kaki adalah pusat dari masalah ini, para ahli berharap program latihan yang dirancang secara khusus dapat membantu lansia mempertahankan mobilitas dan kemandirian mereka lebih lama. Ini bukan sekadar tentang berjalan lebih cepat, tetapi tentang menjaga kualitas hidup di usia senja.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. Scientists reveal why walking gets so much harder with age. Health & Medicine News -- ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260815065014.htm