Malayan SaintifikaCourseeJournalMedia
M
Malayan Media
Medical Science & Biomolecular
Cari
BerandaCariTentang
← Beranda
Manajemen Kesehatan

Lonjakan Kasus Keracunan Kratom di AS Mencapai 6.500 Persen dalam Satu Dekade

dr. Abdul Malik Setiawan, M.Infec.Dis., PhD19 Agustus 2026Manajemen Kesehatan

Penggunaan kratom dan risiko kesehatan serius yang menyertainya melonjak drastis di Amerika Serikat dalam sepuluh tahun terakhir. Data dari pusat kendali racun menunjukkan lonjakan kasus dari hanya 19 laporan pada tahun 2010 menjadi lebih dari 1.200 kasus pada tahun 2023. Para peneliti memperingatkan bahwa kratom dapat memicu kejang, gangguan irama jantung, kerusakan hati, dan masalah pernapasan, terutama jika dikombinasikan dengan obat-obatan lain.

LonjakanKasusKeracunanKratomMencapai
Dalam satu dekade terakhir, Amerika Serikat menyaksikan peningkatan dramatis dalam kasus keracunan yang terkait dengan konsumsi kratom, sebuah tanaman herbal yang berasal dari Asia Tenggara. Laporan terbaru dari pusat kendali racun mengungkapkan bahwa jumlah kasus yang dilaporkan melonjak hingga 6.500 persen, dari hanya 19 kasus pada tahun 2010 menjadi lebih dari 1.200 kasus pada tahun 2023. Angka ini mencerminkan kekhawatiran yang semakin besar di kalangan profesional kesehatan mengenai keamanan penggunaan tanaman ini. Kratom, yang dikenal dengan nama ilmiah Mitragyna speciosa, sering digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai alternatif alami untuk mengatasi nyeri, kelelahan, atau bahkan mengurangi ketergantungan pada opioid. Namun, para peneliti memperingatkan bahwa efek samping yang ditimbulkan bisa sangat serius. Seiring dengan meningkatnya jumlah laporan keracunan, tingkat keparahan dampak kesehatan juga ikut meningkat. Kasus-kasus dengan akibat fatal, seperti komplikasi yang mengancam jiwa, kecacatan permanen, hingga kematian, tercatat naik secara signifikan. Secara klinis, kratom bekerja dengan cara mengikat reseptor opioid di otak, mirip dengan morfin, meskipun dengan efek yang lebih ringan. Namun, pada dosis tinggi atau penggunaan jangka panjang, zat aktif dalam kratom, yaitu mitraginin dan 7-hidroksimitraginin, dapat menyebabkan efek toksik yang berbahaya. Gejala keracunan yang sering dilaporkan meliputi kejang, denyut jantung tidak teratur atau aritmia, kerusakan hati akut, serta depresi pernapasan yang dapat menyebabkan kematian. Risiko ini semakin meningkat ketika kratom digunakan bersamaan dengan alkohol, obat penenang, atau opioid lainnya. Sayangnya, regulasi terhadap kratom di banyak negara, termasuk Indonesia, masih belum seragam. Di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) telah mengeluarkan peringatan tentang risiko penggunaan kratom, namun belum melarangnya secara federal. Hal ini menyebabkan produk kratom mudah diakses secara bebas melalui toko online maupun gerai fisik, seringkali tanpa label peringatan yang memadai. Para ahli menekankan pentingnya edukasi publik mengenai bahaya penggunaan kratom tanpa pengawasan medis. Meskipun beberapa pengguna melaporkan manfaat subjektif, bukti ilmiah masih sangat terbatas dan tidak cukup kuat untuk mendukung keamanan jangka panjangnya. Masyarakat diimbau untuk tidak menganggap kratom sebagai suplemen herbal yang sepenuhnya aman, melainkan sebagai zat aktif yang memiliki potensi adiktif dan toksik. Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala seperti nyeri dada, sesak napas, kejang, atau penurunan kesadaran setelah mengonsumsi kratom, segera cari bantuan medis darurat.
Bagikan artikel ini

Referensi

  1. Kratom poison center cases have surged 6,500% in the U.S.. Health Policy News -- ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2026/08/260814235902.htm